Rabu, 20 April 2011

Ketika seorang anak bersama dengan Bapa

Setiap anak laki dan perempuan perlu mendengar suara Bapa, sebab suara Bapa mengatakan kasih, peneguhan, kemesraan, restu, motivasi, koreksi, keberhasilan, izin untuk berhasil, berkat, identitas, keberanian dan rasa aman.

Seorang anak memperoleh jati dirinya melalui ayahnya. Pertanyaan 'Siapa saya?' terjawab di hati seorang anak melalui interaksi dengan ayahnya. Dikatakan bahwa 85% dari apa yang dipikirkan manusia tentang dirinya datang dari seorang ayah kandungnya.

Seorang ayah memberikan motivasi yang dibutuhkan seorang anak, dan memberi disiplin yang membuat seorang anak mampu mengatasi kurangnya motivasi. Ketika bapa rohani saya memberi motivasi dan wejangan buat saya, saya terus mengingatnya sampai sekarang.

Ayahlah yang memberi anak laki-laki dan anak perempuannya suatu 'izin untuk berhasil'. Izin ini terekam di alam bawah sadar seorang anak melalui apa yang dikatakan ayahnya, dan melalui sikap ayahnya kepadanya. Sebagian orang menghadapi kehidupan dengan percaya sendiri dan sebagian dengan susah payah. Ayahlah yang memiliki kuasa untuk berbicara dan melepaskan ke dalam diri seorang anak, perasaan diterima di alam bawah sadarnya, yang mengatakan kepadanya bahwa ia mendapat izin untuk berhasil dalam hidup ini.

Kasih dan dorongan seorang ayah adalah hal terpenting dalam kehidupan anak-anaknya. Dari seorang ayah muncul perasaan diterima dan diteguhkan yang begitu penting bagi kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan, kekuatan dan tujuan. Kasih dan penguatan yang meneguhkan dan menerima berbicara dalam setiap bagian dari kehidupan seorang anak. Jadi identitas, motivasi dan izin untuk berhasil yang dimiliki seorang anak, juga rasa amannya, semua diperkuat dengan sebuah restu. Bahkan di gereja, 80% urusan penggembalaan dilakukan dalam bentuk dorongan.

Tidak ada yang begitu sehat seperti rasa aman. Kasih, perlindungan, dan disiplin seorang ayahlah yang membentuk rasa aman dalam diri anak-anaknya. Ini membantu menjauhkan mereka dari kebutuhan untuk 'giat' demi menyenangkan orang lain, sesuatu yang secara rohani dapat melemahkan dan menghasilkan pekerjaan agamawi yang baik, bukan iman, dan yang juga menghalangi mereka untuk menemukan kepercayaan dan keintiman dalam hubungan.

Selain semua ini, ayah juga memberikan warisan dan berkat turun-temurun. Selain warisan jasmani, seorang ayah yang memiliki iman dan ketaatan yang besar kepada Kristus dapat meninggalkan warisan rohani yang berkuasa untuk anak-anaknya, yang bernilai dan berdampak besar. Ayah saya adalah salah seorang yang melakukan hal ini untuk saya. Suatu ketika, ia menumpangkan tangannya pada saya dan memberkati saya. Beranjak dewasa, akhirnya saya tahu bahwa itu adalah warisan rohani dari almarhum ayah saya.

Hal yang terpenting adalah seorang ayah berbicara dari hati ke hati kepada anaknya, memenuhi hati mereka dengan penerimaan dan restu. Dari sini timbul rasa aman, identitas dan motivasi, sehingga hati anak-anak diberkati, dibesarkan, diangkat dan diarahkan ke masa depan yang berkelimpahan oleh seorang ayah yang mengasihi dan berbicara. Saya ingat bahwa ketika saya kecil, ayah saya selalu bisa memberikan waktu berdua dengan saya, jalan bersama dan makan bersama.

Ketika berada di sisi ayahnya, seorang anak laki-laki menjadi seorang pria yang dewasa, seorang anak perempuan menjadi seorang putri yang dewasa. Memiliki ayah benar-benar melegakan seorang anaknya, karena ayah memberi energi. Berjalan bersama seorang ayah membangun percaya diri. Kita dapat menghadapi apapun ketika kita tahu bahwa ayah mempercayai kita. Kita tidak ditetapkan sendiri.

Bagaimana dengan ayah kita?Bagaimana dengan bapa atau ibu rohani kita?

Yesus pun perlu mendengar suara BapaNya. "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Matius 3:17. Yesus mendapatkan pengakuan dari Bapa berupa pengakuan identitas dan kemesraan. Hal yang serupa juga pernah Bapa nyatakan kepada saya suatu ketika saat saya dibonceng naik sepeda montor. "Nak, Akulah Bapamu. Aku menantikanmu.. Aku mau menanggungmu hari demi hari!"

Hati Yatim Piatu

Akhir-akhir ini banyak anak Tuhan mempunyai keadaan hati yang tidak mendapat kepedulian dan kasih sayang orang tua. Sehingga kepercayaan mereka mudah rusak, dikhianati, bergumul dengan emosi-emosi seperti ketakutan, rasa tidak aman, dan harga diri yang rendah. Emosi-emosi seperti ini membuat mereka tidak bisa mempercayai pemimpin, orang yang berotoritas dan orang lain.. dan terkadang kesulitan memelihara hubungan terutama hubungan yang menuntut keintiman/ keterbukaan.

Cara pandang yang salah inilah yang terus menghantui kita, yaitu merasa tidak memiliki, tidak dikasihi, tidak mendapat restu, tidak aman, tidak percaya, curiga dengan figur ayah, atau tidak tahu bagaimana menjalin hubungan dengan seorang figur ayah. Ada juga dari mereka yang takut bercakap-cakap dengan Bapa, sungkan dengan Bapa, karena mereka memiliki ayah kandung yang pendiam dan cuek, sehingga mereka tidak enjoy dengan Bapa.

Ada juga mereka tidak betah di gereja ketika konfrontasi muncul dengan gembala/ pemimpin, biasanya ketika mereka ditantang secara pribadi untuk hal tertentu. Mereka merasa terhina dan pindah ke gereja lain, namun cepat lambat mereka terikat dengan siklus ini kembali, kejadian yang serupa akan berulang kembali.

Roh Esau

Ada yang salah dengan roh esau. Ia meremehkan warisan bapanya, sehingga Allah menolaknya. Di mana pun orang-orang percaya menolak pemimpin dan gembalanya, di mana pun mereka tidak menghormati bapa maupun ibu rohani mereka, dan di mana pun mereka meremehkan visi, doa atau jeritan hati para gembala untuk membimbing umat Allah dalam kekudusan, maka orang-orang percaya itu menganggap rendah warisan mereka.

Bagaimana dengan kita? apakah kita sedang mengejar suatu hubungan dengan bapa/ ibu rohani, bahkan dengan Allah Bapa? atau kita sedang lari dari Bapa?

0 comments:

Posting Komentar