Jumat, 24 Juni 2011

Belajar dari Yefta yang terluka

Tidak sedikit di antara kita pasti mengalami kepedihan dan kepahitan hati karna terluka oleh orang-orang di sekeliling kita. Adalah sesuatu hal yang wajar kalau tangan terluka dan berdarah jika ada benda yang tajam menoreh tangan kita; namun menjadi tidak wajar bagi kita apabila membiarkan luka itu tetap ada dan tidak berusaha mengobatinya. Hati dan perasaan kita bisa begitu terluka dan begitu pahit ketika kita tidak bisa menerima perlakuan dan keadaan yang terjadi saat itu. Pelakuan dan keadaan tersebut tidak sesuai yang kita harapkan dan membuat kita "shock", namun kita tidak cukup mampu berbesar hati untuk menerima kenyataan tersebut. Misal : keadaan yang meleset dari perencanaan kita, doa yang begitu lama tidak dijawab oleh Tuhan atau sikap orang lain yang membuat kita kecewa. Ada juga mereka yang terluka hatinya oleh orang yang mempunyai otoritas di atas mereka,misal oleh orang tua, gembala atau pemimpin. Yefta pun mengalami demikian.

Hakim 11:1-3 Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead. Juga isteri Gilead melahirkan anak-anak lelaki baginya. Setelah besar anak-anak isterinya ini, maka mereka mengusir Yefta, katanya kepadanya: "Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain." Maka larilah Yefta dari saudara-saudaranya itu dan diam di tanah Tob; di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia.

Yefta terluka karena ia ditolak keberadaannya dari keluarga. Ia terluka karna ibunya bukan orang baik-baik. Ia terluka karna ia tidak dimiliki oleh keluarganya. Ia terluka karena dirinya yang menanggung akibat dosa yang diperbuat ayahnya. Ciri orang yang mendapat luka pahit di hatinya adalah trauma masa lalu yang begitu melekat di hatinya, takut menghadapi kenyataan dan berusaha lari dari kenyataan tersebut. Yefta begitu trauma dengan siapa dirinya dalam keluarga Gilead, ia "lari" dan seakan menjadi "pribadi orang lain" yang lebih kuat, untuk sekedar menutupi jiwanya yang sebenarnya sedang rapuh. Yefta menjadi penentang/ pemberontak, ia menjadi bagian dari komunitas para perampok yang suka berpetualang. Ia berusaha membalas rasa sakit hatinya yang ia terima, dengan cara meresahkan keadaan masyarakat di sekitarnya. Ada yang berubah menjadi pribadi yang "minder" dan pemalu, seperti Saul. Ada juga yang malah berusaha "unjuk gigi" supaya keberadaannya diakui oleh orang-orang sekelilingnya, seperti Daud. Bukankah ini semua berkaitan dengan hati dan gambar diri kita? Namun Tuhan itu luar biasa, Ia kasih kepada setiap kita dan mau membalut setiap luka anak-anakNya yang mau datang dan dipulihkan. Mazmur  147:3 Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka. Hal itu pula yang dialami oleh Yefta. 

Hakim 11:7 Tetapi kata Yefta kepada para tua-tua Gilead itu: "Bukankah kamu sendiri membenci aku dan mengusir aku dari keluargaku? Mengapa kamu datang sekarang kepadaku, pada waktu kamu terdesak?" Pernahkah kita merasakan seperti "tambal butuh" dalam komunitas, terakhir dipilih karna sudah tidak ada pilihan lain, atau bahkan dari awal merasa tidak disejajarkan dengan orang-orang yang "berkualitas menurut anggapan kita sendiri". Itulah yang tepat dialami oleh Yefta (yang sudah dikenal sebagai perampok saat itu) ketika kaum keluarganya mendatanginya meminta pertolongannya untuk berperang melawan musuh bangsanya. Ia mengatakan apa yang keluar dari hatinya yang penuh trauma penolakan dari keluarganya. Ia belum bisa mempercayai keluarganya lagi, ia menjadi curiga. Nama Yefta tercatat dan jasa kepahlawanannya diingatkan kembali oleh nabi Samuel kepada bangsa Israel, karena keputusan Yefta yang benar. Ia akhirnya belajar berani menerima kenyataan, walaupun dari hati kecilnya, ia masih berpikir bahwa ia hanya menjadi "tambal butuh" saja.

Perhatikan sebuah ayat tersebut "Maka Yefta ikut dengan para tua-tua Gilead, lalu bangsa itu mengangkat dia menjadi kepala dan panglima mereka. Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa.- Hakim 11:11". Kata "tetapi" menunjukkan keadaan hati Yefta yang berbeda situasi saat itu. Jika para tua Gilead bergirang hati karna ada harapan bagi bangsa Israel untuk menang; hati Yefta sedang sedih. Arti sebenarnya "Membawa seluruh perkaranya" adalah mencurahkan isi hatinya, merenungkan dan mengingat-ngingat apa yang terjadi di masa lalu. Sebelum ia mengucapkan janji ikrar sebagai kepala dan panglima, ia terlebih dulu harus membereskan luka masa lalunya dulu. Kita harus mengubah paradigma dan sikap hati kita yang salah dulu. Yefta yang arti namanya "Yahweh membuka/ memberi kelepasan dan kebebasan" menumpahkan "borok-borok lukanya" dalam persekutuannya dengan Tuhan. Sebelum Ia melepaskan belenggu luka kita dan membebat luka kita, kita harus terlebih dulu mengucapkan dan mengakuinya di hadapan Tuhan. Saat kita mengakuinya, maka Tuhan akan membereskan kita dengan FirmanNya. Oleh karena itulah, dalam masa tersebut, kita harus sering bergaul dengan Firman dan dalam doa kerendahan hati. Tuhan harus mengeluarkan segala kekotoran di luka tersebut (nanah, debu dsb), membersihkan kemudian membalutnya dengan Firman.

Mazmur 62:9 Trust in, lean on, rely on, and have confidence in Him at all times, you people; pour out your hearts before Him. God is a refuge for us (a fortress and a high tower). Selah [pause, and calmly think of that]! ( Amplified Bible)

Kita tidak bisa mengubah masa lalu yang sudah terjadi, tapi kita bisa membuat keputusan yang benar sehingga nantinya Tuhan bisa membuat masa depan kita indah bersamaNya. Belajar dari Yefta yang namanya tidak terlupakan oleh bangsanya, bukan sebagai pemberontak/perampok yang meresahkan masyarakat, tetapi sebagai hakim dan panglima yang membawa kemenangan Tuhan bagi bangsanya.

Renungkan:
  1. Gilead tidak menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab. Berbuat dosa, tapi membiarkan Yefta, anaknya yang menanggung akibat dosa tersebut. Jagalah langkah hidup kita dari dosa, karena kadang dampak dosa yang kita perbuat mempengaruhi orang sekeliling kita bahkan keturunan kita.
  2. Luka hati yang belum dibereskan, akan membuat trauma yang begitu mengikat orang tersebut, sehingga orang tersebut menjadi pasif, tawar hati, unjuk gigi maupun menjadi pemberontak/ penentang.
  3. Pastikan sebelum Tuhan memakai kita lebih lagi, kita sudah berdamai dengan diri kita, dengan panggilan, dengan Tuhan bahkan orang lain.
  4. Ketika berdoa, jangan hanya diam, belajarlah mengucapkan/ mencurahkan isi hati dan pergumulan kita kepadaNya. Tindakan itu adalah untuk kepentingan kita, bukan karena Dia tidak tahu apa yang kita gumulkan. 
  5. Dalam masa pemulihan luka, bergaullah dengan Tuhan lebih lagi, gali Firman lebih lagi, sehingga Firman itu yang membebaskan dan memberi kelepasan bagi kita.

0 comments:

Poskan Komentar