Senin, 02 Agustus 2010

"Elia, bangunlah, makanlah.. dan segera pergi dari padang gurun ini!"

I Raja-raja 19:3-4 Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."

Tidak ada seorang pun dari kita yang tidak pernah mengalami masalah berat yang bisa membuat kita kehilangan kekuatan untuk bangkit dan berjalan kembali. Kadang kita merasa Tuhan tidak memberi jalan keluar dan pertolongan kepada kita. Kadang kita merasa Tuhan tidak membela kita saat kita sudah berusaha melakukan yang terbaik demi Dia. Kadang kita merasakan tidak ada teman/saudara seiman di sisi kita yang mengerti keadaan kita saat kita perlukan. Kadang kita tidak habis mengerti knapa masalah berat itu harus terjadi. Belum selesai masalah yang satu, muncul kembali masalah yang lain yang tidak kalah beratnya. Kadang itu membuat kita depresi, muak mengikuti Tuhan dan beribadah. Bahkan kita dongkol dan . . . marah. Elia ( yang arti namanya: "Yahweh Tuhan Allahku adalah pertolonganku" ) pun pernah mengalaminya.

Suatu ketika Elia tidak bisa merasakan pertolongan Tuhan dan jalan keluar atas masalahnya, ia merasakan bahwa Tuhan tidak membelanya atas apa yang telah ia berusaha lakukan demi nama Tuhan, ia merasakan depresi yang cukup hebat sehingga ia ingin mati saja. Jika sebelumnya ia dengan gagahnya menyatakan kuasa Tuhan, namun saat didengarnya bahwa Izebel bersumpah akan membalas dendam dan akan membunuhnya, ia agaknya takut dan langsung menjadi depresi karena ia bertanya-tanya kenapa Tuhan tidak membelanya. Dalam depresinya, ia pergi dari Yizreel (arti: "Allah memisahkan") menuju ke Bersyeba (arti:"sumber air kelimpahan") (jaraknya sekitar 95 mil/ lebih dari 150 km). Bersyeba adalah wilayah kekuasaan raja Yosafat, wilayah di luar kekuasaan raja Ahab dan Izebel, namun tetap tidak aman bagi Elia, karena Yosafat dan Ahab memiliki hubungan baik saat itu; sehingga ia melanjutkan perlariannya masuk ke padang gurun Kadesh Barnea yang jaraknya sehari perjalanan dari Bersyeba. Kemungkinan besar menurut peta, Elia berjalan lurus menjauhi Yizreel ke Bersyeba dan setelah itu ada padang gurun Kadesh-Barnea, yaitu padang gurun ketika bangsa Israel dalam pimpinan Musa harus mengitari hampir 40 tahun lamanya karena ketidakpercayaan mereka kepada Tuhan(Ulangan 2:14).

Kadesh Barnea adalah tempat pemurnian karakter kita... tempat pengujian karakter dan motivasi...tempat di mana mata jasmani kita hanya menilai apa yang ada di sekeliling kita, yaitu hanya tampak padang gurun . . . gersang . . . sunyi . . . panas. . .

Apakah yang Elia alami, anda dan saya juga alami sekarang?


Depresi Elia di Kadesh Barnea

I Raja-raja 19:5-8 Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: "Bangunlah, makanlah!" Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula. Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: "Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu." Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.

Orang yang depresi, ia akan menjadi pasif secara rohani, ia akan "tidur" karena semua semangatnya telah pudar. Namun perhatikan Elia tidur di tempat yang salah, ia tidur di padang gurun, ia tidak tidur di dalam hadirat Tuhan, ia tidak tidur di gunung Allah. Saat kita berada di padang gurun, jangan berlama-lama di sana, apalagi tidur, karena kita tidak tahu apa kita seketika mati dalam keadaan lemas tertidur nantinya. Oleh karena itu, Tuhan membangunkan Elia dan disuruhnyalah makan dan minum. Namun itulah manusia, satu kali perhatian dari Tuhan dianggapnya sebuah mimpi belaka, sehingga Elia berbaring dan akan tidur kembali. Kedua kalinya Tuhan membangunkan Elia, disuruhnyalah makan dan minum yang kedua kali, lalu Tuhan berkata dengan jelas agar ia segera keluar dari padang gurun ini dan menuju ke gunung Allah dengan berjalan 40 hari 40 malam lamanya tanpa lapar dan haus, mungkin juga tanpa istirahat atau "tidur" kembali.

Perjalanan Elia keluar dari padang gurun Kadesh Barnea menuju gunung Allah(gunung Horeb/ gunung Sinai) adalah perjalanan setapak demi setapak selama 40 hari 40 malam. Ia tidak lagi seperti saat Tuhan membawa dia berlari cepat yang mendahului laju kereta Ahab (I Raja-raja 18:45-46). Inilah uniknya Tuhan kita, jangan dikira Tuhan akan membuat kita dalam 1 jam atau 1 hari langsung tiba-tiba keluar dari padang gurun pemurnian kita. Pemurnian karakter itu selangkah demi selangkah, mungkin 1 tahun, mungkin beberapa bulan atau beberapa tahun. Jangan salah mengerti dengan cara kerja Tuhan !


Roti hangat berbicara tentang pengorbanan Yesus di kayu salib. 
Yohanes  6:51 "Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." Lukas 22:19 Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku."

Air segar berbicara tentang Yesus yang menjadi sumber air kehidupan kita.
Yohanes 4:14 barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."

Perhatikan baik-baik! Untuk segera keluar dari padang gurun Kadesh Barnea, Tuhan menyuruh Elia makan dan minum sebanyak 2x. Agar kita keluar dari padang gurun dengan kemenangan dan tanpa "tertidur", kita harus lebih sungguh merenungkan apa yang telah Tuhan perbuat bagi kita selama ini, hanya memandang Tuhan Yesus saja dan bukan sensasi atau manifestasiNya.


Masa yang baru akan kita lalui, saat kita merendahkan diri dan rela diperlakukan apapun oleh Tuhan

I Raja-raja 19:9-18. Di sana(gunung Allah) masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" Jawabnya: "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, . . . " Lalu firman-Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu ("Tuhan lewat di depannya")! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu. Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" Jawabnya: "Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawaku." Firman TUHAN kepadanya: "Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, . . . Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia." 

Di saat Elia berhasil tiba di gunung Allah dan tidur di sana, Tuhan malah bertanya tentang apa kerjanya di sana. Pertanyaan yang aneh dari Tuhan, dijawab dengan laporan Elia atas prestasi besarnya di masa lalu dan depresinya. Elia meminta pembelaan Tuhan yang sepantasnya ia terima karena jasa-jasanya yang besar bagi Tuhan. Pertanyaan pertama, Elia menjawab dengan penuh pembelaan diri, ia memegahkan dirinya, sehingga Tuhan harus mendidiknya. Tuhan tidak memakai sensasi atau manifestasi besar-besaran untuk menunjukkan prestasi dan bukti kehadiranNya. Ia datang dengan bunyi angin sepoi-sepoi yang lemah. Ingat juga bagaimana Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai seorang bayi manusia yang dilahirkan di palungan. Saat dicambuk, diludahi bahkan disalib, Tuhan Yesus tidak membela dirinya di hadapan manusia dan Bapa. Tanda angin sepoi-sepoi membuat Elia sadar maksud Tuhan bahwa Tuhan Allah sendiri kadang tidak memegahkan diriNya bagaimana Ia menyatakan diriNya. Maka dari itu Elia menyelubungi muka dengan jubahnya sebagai sikap takut akan Tuhan, tidak memegahkan diri dan merendahkan dirinya di hadapan Tuhan. Ia menjawab pertanyaan Tuhan yang kedua dengan sikap hati yang berbeda. Karena itulah Tuhan memberikan tugas baru buat Elia. Itulah masa yang baru buat Elia. Elia harus kembali pada jalan yang semula melalui padang gurun ke Damsyik. Ia tetap melewati padang gurun pemurnian yang kedua kalinya, namun dengan sikap hati dan roh yang berbeda.

Kita menjadi depresi karena kita tidak bisa menerima keadaan di sekitar kita. Kita merasa bisa mengendalikan keadaan sekeliling kita, itulah juga yang terjadi pada Elia. Elia berpikir dengan dibunuhnya para pemuja Baal, maka ia bisa memegahkan dirinya karena akan membuat Ahab dan Izebel malu pada akhirnya; Namun ternyata yang terjadi adalah di luar harapannya, Izebel malah berniat ingin membunuhnya. Dalam hatinya, Elia mengharapkan pembelaan Tuhan atas hidupnya karena ia merasa berhak; Demikian juga kita yang merasa berhak menerima pembelaan Tuhan atas apa yang sudah kita lakukan buat Tuhan. "Bela aku Tuhan ! Aku sudah setia melayaniMu! Aku sudah menyerahkan hidupku untuk Engkau saja! tetapi mengapa. . .". Sadarilah bahwa kita tidak bisa mengendalikan keadaan sekeliling kita; Hanya Tuhan yang bisa. Apa yang dialami oleh Elia adalah proses pemurnian motivasi dan karakternya. Elia dididik untuk menjadi seorang yang "low-profile", seorang yang memiliki jiwa besar dan hati hamba. 

Hanya orang yang merendahkan diri dan rela diperlakukan apapun oleh Tuhan adalah mereka yang dipersiapkan Tuhan untuk memasuki masa yang baru, masa perjanjian yang baru buat hidup kita. Dalam masa yang baru itu, Tuhan yang akan turun-tangan dan berperkara dengan masalah-masalah kita. Luar biasa ! Namun dosa kesombongan kita harus dihancurkan di hadapan Tuhan terlebih dahulu.

1 komentar:

  1. Shalom...
    Tksh sekali buat postingannya..
    Sangat membantu saya sharing ttg Elia..
    Tksh skali lagi..
    GBU

    BalasHapus