Jumat, 21 Mei 2010

Belajar dari pengalaman manusia pertama (III)

"Sungguhkah kami mati?" "Mana kenyataannya?"

Kejadian 2:16-17. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." Kejadian 3:4 "Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: Sekali-kali kamu tidak akan mati..."

Firman Tuhan berkata "pasti engkau mati pada hari engkau memakannya" namun iblis berkata " sekali-kali kamu tidak akan mati saat kau memakannya". Kenyataannya saat makan buah itu, mereka tidak meninggal;  "Mati" yang bagaimanakah sebenarnya yang Tuhan maksud itu.

Tidak merasa anehkah kita, apakah kematian tubuh ada dalam rancangan Allah mula-mula sebelum mereka jatuh dalam dosa. Jika Allah merancangkan pertumbuhan sedangkan manusia adalah gambar dan rupa Allah, apakah Dia terbersit dengan suatu akhir yaitu kematian manusia dalam rancangan mula-mulaNya? Yang saya tahu dengan pasti, bahwa sebenarnya yang diciptakan Allah adalah mulia dan .. kekal.. sebelum jatuh dalam dosa.

Ternyata iblis tidak pernah mengerti apa yang dikatakan Tuhan sebenarnya.  Saat iblis berdusta bahwa mereka tidak akan mati, malah kelihatannya apa yang dikatakan iblis itu benar, bahwa mereka memang tidak mati, namun tunggu sebentar coba kita lihat di Kejadian 3:19 " ...  sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu." dan Kejadian 5:5 "Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati. " Mereka memang tidak mati saat itu, tapi mereka akhirnya pasti mati. Kematian secara fisik menjadi ada karna pelanggaran mereka. Oleh karna mereka berbuat dosa dan kehilangan citra Allah, mereka ditakdirkan untuk mati.

Lebih jelasnya, secara fisik/tubuh, iblis benar bahwa mereka tidak meninggal saat itu; Karena maksud Allah saat itu adalah kematian secara roh manusia, artinya mereka sudah tidak bernafas kehidupan Allah. Di hadapan Tuhan, mereka sudah mati (kehilangan hubungan dengan Tuhan). Namun Hukum Firman Allah tidak berhenti di sana, karena mereka akhirnya juga benar-benar mati secara fisik/tubuh.


Tuhan menyatakan kembali di Kejadian 3:19 bahwa mereka akan kembali kepada debu. Itulah "Rule"nya Tuhan. Tuhan sudah tetapkan HukumNya di awal, maka Tuhan harus menyatakan keadilan atas Hukum yang Dia tetapkan.

Ada yang bertanya, "Bukankah Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha Tahu, mengapa Ia menciptakan pohon pengetahuan dan menetapkan hukum larangan seperti itu yang pastinya membuat manusia jatuh. Bukankah Ia sudah tahu ?" Saya percaya Ia sudah tahu, karna Ia Allah Maha Tahu, namun kita belajar memandang Allah tidak sebelah mata saja. Bukankah Ia disebut juga Allah yang Berdaulat dan Maha Besar PikiranNya? Coba kita ingat kembali ketetapan Hukum Tuhan buat Musa dan bangsa Israel. Tuhan menetapkan binatang mana yang haram dan tidak haram, apa yang boleh kita makan dan apa yang tidak boleh kita makan. Dahulu bangsa Israel hanya disuruh taat, namun di era dewasa ini, pengetahuan semua telah dibukakan Tuhan dan kemajuan kedokteran sudah begitu pesat sehingga akhirnya kita mengetahui kenapa ada beberapa binatang yang Tuhan larang kita makan, karena itu merugikan dan merusak tubuh kita ini. Misal Tuhan melarang kita memakan binatang yang tidak bersisik, cumi-cumi dan kerang misalnya, karena binatang itu tidak memiliki fungsi menyaring racun, sehingga racun mineral akan mengendap dalam tubuhnya dan jika kita makan binatang itu, maka endapan mineral yang berbahaya buat tubuh manusia bisa masuk ke dalam kita. Ternyata Ketetapan Tuhan baik dan berguna buat kita walaupun memang kita tidak bisa mengerti saat itu dan HikmatNya tidak diberikan kepada kita saat itu. 

Alangkah baiknya kita percaya walaupun tidak melihat/ mengerti. Abraham percaya walaupun ia sebenarnya tidak melihat (tidak mengerti) yang manakah negeri yang dijanjikan itu; Abraham tidak mengerti apa maksud Tuhan menjadikan dia bangsa yang besar, padahal istrinya mandul dan belum mempunyai anak sama sekali; Abraham tidak mengerti kenapa Ishak yang harus dikorbankan dan bukan yang lainnya.

Kadang kita berpikir bahwa apa yang dikatakan Tuhan itu baik adalah baik buat keinginan daging kita. Kebaikan Tuhan bukan untuk mengenakkan daging kita maupun memanjakan kita. Adanya pohon pengetahuan adalah baik di mata Tuhan, karena ada Kedaulatan Allah yang mutlak, dan pastinya kebaikan dan kedaulatan Tuhan bukan untuk memanjakan kita.

Kejadian 3:21. Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.

Setelah Tuhan menyatakan hukumNya, apakah Ia hanya berdiam saja setelah itu? Tidak, Tuhan berinisiatif membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya, dan mengenakannya kepada mereka. Dari mana kulit binatang itu? dari seekor binatang tentunya; Memang tidak dijelaskan apakah itu kulit dari bulu domba atau benar-benar dari binatang yang disembelih oleh Tuhan; Namun yang terpenting, Keselamatan manusia adalah inisiatif dari Tuhan, Tuhan selalu ingin melindungi manusia. Pakaian itu mengandung arti sebuah "covering" dan "sign" bagi mereka akibat pelanggaran. Melalui kulit binatang yang dipakai itu, Tuhan menaruh tanda perjanjian tersembunyi dari manusia bahwa kelak manusia dan seluruh keturunanannya akan ditebus seutuhnya oleh AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Horay !

Jadi, rekan rekan semua, jangan mempertanyakan keadilan Tuhan dan hukumNya. Jangan meragukan FirmanNya dan JanjiNya. Bagian kita adalah melakukan yang terbaik, yaitu taat dan percaya.  

Always do your best and let God do the rest

0 comments:

Posting Komentar