Rabu, 09 Februari 2011

Sebuah perjalanan hidup yang kedua

Tak terasa sudah 18 tahun berlalu sejak meninggalnya papa yang kusayang. Saat aku menulis post ini adalah kesempatan bagiku untuk sejenak merenungkan apa yang telah Allah Bapa perbuat dalam hidupku sampai sekarang. Ternyata dengan berlalunya tahun demi tahun, aku hampir saja melupakan bahwa aku pernah memiliki seorang papa dalam hidupku. Sekilas cerita, lebih dari 10 tahun, aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa seorang yang aku sayangi telah meninggal. Masa itu, aku belum benar-benar bisa melepaskan kepahitan dan kekecewaanku kepada Tuhan, sedangkan keluargaku bukanlah keluarga yang kaya. Aku menjadi seseorang pendiam dan cukup pasif sejak meninggalnya papaku. Amarah, menuntut kesempurnaan, sombong dan egois, itulah sisi burukku yang terbesar. Aku hidup sebagai anak tunggal, karena kokoku meninggal saat aku masih berusia setahun. Sampai sekitar 2 tahun lalu, jujur aku iri dengan teman-temanku yang mempunyai saudara-saudara kandung yang kompak; walaupun ada juga beberapa temanku yang memiliki saudara kandung, yang iri dengan hidupku sebagai anak tunggal. Ya.. itulah hidup, selalu merasa bahwa hidup orang lain lebih baik dari hidupnya sendiri. Namun itulah lembar hidup masa laluku yang telah ditutup, dibayar lunas dengan darah Yesus, serta semua memang karena kasih karuniaNya dan kebesaran hatiNya sebagai Bapa yang berulang kali mengarahkan aku. Cukup lama bertahun-tahun buat aku, untuk benar-benar utuh menerima kasihNya dari sejak pertama kali Bapa menyatakan kepadaku dengan sejelas-jelasnya, bahwa aku adalah anakNya dan Ia menjadi Bapaku yang mau menopangku hari demi hari.

Sebuah perjalanan hidupku yang kedua adalah perjalanan ketika aku benar-benar menyertakan Allah Bapa sebagai Bapa yang berdaulat atas hidupku. Sebuah perjalanan sebagai sebuah kesempatan kedua yang Bapa berikan bagiku agar aku berjalan dan merasakan hari-hari penyertaanNya yang seru dan menantang. Sebuah perjalanan ketika aku memanggilNya dengan sebuah ikatan hubungan, mengakuiNya sebagai Bapa. Aku dapat rasakan bagaimana perasaan Bapa saat itu, ketika aku bertobat dari sifat burukku dan benar-benar mengakuiNya sebagai Bapa. Ia berkata : "Ya. nak.. itu yang Kumau sejak dulu..itu yang Kunantikan sejak dulu.. Mengapa engkau sekarang menyadarinya. Sampai sekarang Aku tetap menantikan sebutan itu untuk Ku. Sampai sekarang tidak pernah berkurang kasihKU bagimu. Terima kasih nak!". Saat itu hal yang kusadari pertama kali bahwa ternyata Bapa adalah Allah yang memiliki karakter kerendahan hati dan rela menanti dengan sabar atas kita karena kasih kemurahanNya atas kita yang begitu besar; walaupun demikian kita juga tidak boleh mempermainkan kesabaranNya yang agung itu. Saat aku menapaki perjalananku, aku mengalami bagaimana Bapa menjadi Allah yang kasih. Jika aku berkata bahwa Allah itu kasih, maka aku juga menyatakan bagaimana kasih itu juga mendidik, menghajar dan kadang membuat seseorang jera atas sesuatu hal.

Tahun 2011 ini adalah salah satu jalan yang harus kutapaki dari perjalananku yang kedua bersama Bapa. Tahun ini tetap tahun didikan Bapa atas hidupku, dan aku pikir memang aku akan terus dididik untuk semakin serupa dengan gambarNya sampai aku kembali ke surga. Siapakah dari kita yang dapat berkata bahwa kita telah menjadi lebih baik dan tidak perlu lagi dididik oleh Bapa. Tahun ini adalah tahunku melanjutkan belajar hidup dalam keakraban dengan Bapa dan kesederhanaan dalam hidup sehari-hari. Memperdalam hidupku dengan Bapa, Mendengarkan suaraNya dalam keheningan dan kesendirian. "Keadaan keheningan dan kesendirian", aku merasakan bahwa mungkin itulah yang akan sering aku alami di tahun ini.

Membatasi kelimpahan berkatNya bagiku adalah bagaimana Bapa mengajarkan agar aku hidup dalam kesederhanaan. Membeli apa yang benar-benar penting dan perlu, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki. Memang tabiat lamaku adalah tidak hati-hati dan meremehkan saat memakai barang, dan dengan sombong, ujung-ujungnya berkata 'nanti beli yang baru saja'. "Ya kalau Bapa berkati. Kalau tidak, apanya yang beli baru", pikiran itulah yang membuat aku sadar, pelan-pelan mengubah kebiasaanku yang buruk, belajar merawat barang. Satu yang kupercaya, Bapa menyatakan kuasaNya yang mengubahkan atas hidup kita, jika kita benar-benar sadar dulu atas busuk dan jeleknya karakter kita. Dulu, aku beranggapan bahwa aku akan bisa mudah menghasilkan uang dengan kepandaian dan ketrampilanku, namun ada peristiwa-peristiwa yang Bapa izinkan terjadi seakan-akan seperti hari-hari sial, sehingga apa yang aku kerjakan dan kepandaian yang kumiliki tidak ada hasil, lenyap bahkan rugi. Hal itu terjadi karena aku sombong dan tidak melibatkan penyertaan Bapa atas hari-hariku. Hal yang sungguh heran dan membuat aku sadar betapa sombongnya diriku, bahwa sering Bapa memakai orang yang tidak aku kenal, asal ngomong bahkan bukan anak Tuhan sekalipun untuk menyadarkan dan menghancurkan egoku.

Aku dididik juga oleh Bapaku untuk melepaskan apa yang aku "genggam erat", ketakutanku, kekuatiranku akan hal-hal di depan, bahkan apa yang aku sayangi dan berharga. Belajar untuk percaya kepada Bapa, belajar berserah itulah yang tetap aku perkatakan dalam hidupku sampai hari ini. Kadang ada saja yang membuat aku kehilangan damai sejahtra, kehilangan fokus dari Bapa, namun secepatnya aku harus juga belajar disiplin untuk tetap berfokus pada Bapa. "Saat aku memandang mata Bapa, aku temukan masa depanku di sana!", itulah hikmat yang sering berulang-ulang muncul di benakku. Seperti hari-hari ini pula, kadang ada saja peristiwa yang membuat pikiran dan hatiku lemah, jiwa lemah, namun secepatnya aku harus sadar bahwa identitas siapa aku di dalam Tuhan, apa yang dapat ku lakukan jika bersamaNya.

Akhir tulisanku dari post ini, mari kita lalui tahun ini dengan mau melibatkan Tuhan senantiasa dalam hidup kita, hidup kudus dan mau disempurnakan seperti Bapa. Amin.

 "Yang terbesar di mata Tuhan adalah mereka yang dapat dididik oleh Tuhan, mau rendah hati dan yang mau dilembutkan senantiasa"- Matius 18:1-4

1 komentar:

  1. kesaksian yg luar biasa ..
    firman Tuhan di genapi ..

    Barangsiapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat; barangsiapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!" (Wahyu 22:11)

    Tuhan tidak akan meninggalkan anak2 nya yg mau di didik dengan baik ..
    GBU..

    BalasHapus