Jumat, 11 Februari 2011

Hanya sekedar menjadi fans Yesus ?

Ada seseorang yang berkata, "Loh, benar tah ko tidak kenal si A, tapi kenapa ko bisa dapat info banyak tentang dirinya?". Saya hanya menjawab bahwa saya bisa mengambil informasi tentang dirinya dari teman-temannya, keluarganya, bahkan mungkin dari info yang dapat saya temukan di internet; tetapi itu tidak menjamin bahwa saya memiliki suatu hubungan dekat dengan dia dan sebaliknya. Ada suatu perbedaan yang jelas antara tahu dan mengenal seseorang. Contoh lain, mungkin dari kita menyukai beberapa artis penyanyi sekuler atau artis penyanyi rohani, kita mengoleksi albumnya, kita dapat memiliki banyak info tentang dirinya, masa kecilnya, kesukaan/hobi dan banyak hal, namun itu tidak berarti bahwa artis tersebut memiliki hubungan dekat dengan kita. Dia tidak tahu bagaimana pribadi kita bahkan mengenal kita, mungkin baginya, kita hanya salah satu dari para fans-nya saja. Mengenal berarti ada suatu timbal balik dalam ikatan hubungan. Kalau kita mengenal seseorang, berarti kita pernah bertemu, bercakap-cakap dengannya berulang kali sampai terjalin kedekatan hubungan satu sama lain secara natural.

Dewasa ini, banyak dari kita yang tanpa disadari hanya menjadi para fans Yesus. Sekali lagi saya ulangi, bahwa menjadi fans, berarti kita tidak pernah bisa masuk dalam kehidupan orang tersebut. Kita bisa mengikuti ke mana dia pergi, membuat suatu kehebohan baginya, membentuk kelompok fans beratnya, tapi tetap saja kita adalah sekedar fans. Berbeda dengan menjadi teman bahkan sahabatnya, mungkin kita tidak menimbulkan suatu kehebohan berarti baginya, tapi kita bisa masuk ke dalam kehidupannya, sering mengobrol dengan dia. Dalam kekristenan, kita bisa mempelajari Yesus dari A sampai Z, menceritakan siapa Yesus di depan mimbar, berkhotbah siapa Yesus itu, bahkan berusaha menjadi seperti Yesus seperti layaknya para fans yang meniru model rambut dari artis favoritnya. Kita bisa dengan leluasa memberikan semua info tentang diriNya kepada teman-teman kita yang belum percaya, tapi berhati-hatilah apakah diri kita di hadapanNya hanyalah sekedar salah seorang fans-Nya saja.  Kita bisa mengikuti kegerakanNya, membuat kehebohan tentang diriNya, membuat/ mengikuti KKR di sana sini, namun bisa saja Tuhan tetap tidak mengenal kita. Saya adalah saksi Kristus, tapi saya tidak mau menjadi fans-Nya, saya ingin menjadi seseorang yang sangat berarti di hatiNya, yang Dia kenal.

Menjadi seorang fans-Nya bukan kehendak Bapa atas kita. Seorang fans-Nya tidak akan dipenuhi oleh Roh-Nya, dia hanya mencari sensasi, pemuasan diri sampai kenyang dengan berada di sekitar-Nya ( Yohanes 6: 26). Orang-orang banyak yang berada di sekitar-Nya kadang malah menyusahkan diri-Nya ( Yohanes 6: 1-3; 15).

Anda harus menjadi murid Kristus yang mau dibentuk, sebelum menjadi SaksiNya

Kita harus memperhatikan alur tepat kisah dari bagaimana Tuhan memilih 12 orang menjadi murid-Nya, sampai mereka dipilih menjadi Saksi-Nya. Ketika saya berkata kita harus menjadi saksiNya, maka berarti kita harus terlebih dahulu menjadi murid-Nya, orang yang dididik dan saling membagi hidup bersama-Nya.  Dua belas murid Yesus tinggal bermalam di rumahNya, makan bersama-sama denganNya, membentuk komunitas sel setiap hari bahkan mereka bercerita sambil berjalan. Mereka mendapat tempat di hati Yesus. Walaupun demikian ketika kita menjadi muridNya, bukan berarti kita sudah memiliki motivasi yang benar untuk menjadi muridNya, seperti Yudas Iskariot, atau para murid yang mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka. Maka dari itu saya harus tegaskan bahwa kita muridNya harus rela dikoreksi dan dibentuk oleh Tuhan sebelum menjadi Saksi-Nya. Yudas Iskariot adalah contoh seorang murid yang gagal dipilih untuk menjadi saksi-Nya.

"Sesungguhnya Aku tidak mengenal kamu!" Hah?

Matius 25:12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.

Sungguh mengagetkan apabila tiba-tiba Dia berkata seperti itu kepada 5 gadis yang bodoh. Apakah Sang Raja tidak mengingat bagaimana awal kesetiaan para gadis itu? Bukankah mereka sudah berjaga-jaga sedemikian lama untuk menantikan Sang Raja itu tiba. Masalahnya, mereka tidak membawa persediaan minyak dalam buli-buli. Minyak adalah lambang pengudusan/ pengurapan/ penahiran/ penjagaan, juga lambang dari kehadiran Pribadi Roh Kudus itu sendiri. Roh Kuduslah yang mempertahankan nyala api dalam setiap kita. Dengan kata kain, jika seseorang tidak lagi mempertahankan hidupnya berjalan bersama Roh Kudus, tidak hidup dalam terang dan kekudusan ilahi, maka Sang Raja tidak lagi berkenan kepadanya.

Efesus 1:14 Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Ternyata, bagaimana kedekatan kita dengan Roh Kudus adalah bagaimana kita dapat memperoleh janji Allah secara maksimal, bahkan rahasia-rahasia Kerajaan Allah yang dinyatakan atas hidup kita. 5 gadis bodoh adalah mereka yang tidak memiliki kedekatan dengan Roh Kudus.

Lalu apa hubungannya antara 5 gadis bodoh dengan para fans Yesus? Di hadapan Tuhan, 5 gadis bodoh adalah mereka yang tidak dikenal oleh Sang Raja dalam ketekunannya, walaupun mereka tahu seluk beluk A-Z tentang Sang Raja. Mereka mungkin "pernah" dekat dengan Roh Kudus namun hanya sementara, itu terbukti bahwa mereka turut membawa pelita dengan minyak sekadarnya.

"Berjagalah!" bukan berarti kita tidak mungkin bisa tertidur, melainkan senantiasa mikilah kedekatan dengan Roh Kudus sampai Maranatha.

Bagaimana agar kita dapat dikenal oleh Tuhan? adalah dengan hidup dalam kehendak Tuhan/ panggilan Tuhan serta hidup membangun hubungan keintiman doa dengan Tuhan melalui RohNya setiap hari.

Tuhan memberkati !

0 comments:

Posting Komentar